Keluarga kecilku

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juni 2011

Mengatasi Anak Bermasalah

Setiap orangtua pasti berharap agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Betapa bahagianya apabila anaknya ketika masih bayi tidak rewel, mudah beradaptasi ketika diajak berkunjung ke rumah saudara atau kenalan, apabila disapa keluarga tersenyum atau bahkan langsung tertawa, tidak susah makan, atau tidak buang air besar dan kecil (termasuk mengompol) sembarang waktu dan tempat. Alangkah bahagianya para orangtua apabila anak-anaknya yang sudah menginjak usia sekolah dapat bersekolah dengan baik, bisa bangun pagi-pagi, tidak bermasalah dengan teman-temannya, rajin belajar, tidak suka berbohong, sopan, suka menolong, patuh kepada orangtua dan guru, apalagi rajin pula beribadah.
Namun, apabila anak tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan yang diharapkan, misalnya, susah makan, rewel, mudah memberontak, atau kalau sang anak sudah mulai besar ia suka berbohong, mencuri, menakali teman, atau malas belajar, tidak jarang orangtua kebingungan bagaimana cara mengatasinya. Ketika sekali atau dua kali orangtua menasihati anaknya dan anaknya tetap tidak berubah, tak sedikit pula orangtua yang justru memarahi anaknya, memberikan hukuman, atau bahkan memukul sang anak. Ketika keadaan sudah begini, tidak banyak dari orangtua yang bisa berpikir dengan tenang untuk mencari jawab mengapa anaknya menjadi bermasalah.
Anak bermasalah yang dimaksudkan di sini adalah anak yang mempunyai perilaku tidak sesuai dengan keinginan atau harapan orangtua yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang dianut oleh orangtua, keluarga, atau bahkan lingkungan. Di dalam menangani anak bermasalah apakah dibenarkan melalui cara, misalnya, memarahi anak, mengurung anak, atau bahkan memukulinya? Sudah tentu, cara-cara tersebut tidak dapat dibenarkan, di samping termasuk "kejahatan terhadap anak", cara tersebut juga tidak efektif untuk mengubah perilaku anak bermasalah menjadi baik. Jika memang berubah menjadi baik, perubahan yang terjadi akan menyimpan kesan buruk dalam diri anak, atau perubahan itu tidak berlangsung lama karena tidak berangkat dari sebuah kesadaran.
Ada seorang anak yang suka mengambil uang orangtuanya secara diam-diam (mencuri) untuk tambahan jajannya atau untuk bermain game online di warnet (warung internet) dekat rumah. Pada saat orangtuanya mengetahui bahwa yang mencuri uangnya adalah anaknya sendiri, maka sang orangtua memarahi habis-habisan sang anak, bahkan memukulnya. Untuk beberapa waktu sang anak anak memang jera dan tidak mau mencuri lagi karena takut kepada orangtuanya. Namun, apakah perilaku bermasalah anaknya selesai begitu saja? Ternyata, sang anak beralih untuk mengambil uang temannya. Hal ini bisa terjadi barngkali sang anak berpikir jika mengambil uang temannya lebih aman karena temannya tidak segalak orangtuanya ketika marah.
Ada pula seorang anak yang mempunyai kebiasaan makan banyak. Orangtuanya memarahinya dengan sangat karena sang orangtua tidak menginginkan anaknya semakin bertambah berat badannya. Sang anak memang telah mengalami berat badan yang berlebih alias kegemukan. Di depan orangtua, sang anak memang makan secara normal sebagaimana kebiasaan keluarga, yakni sehari makan sebanyak tiga kali. Namun, ketika orangtuanya tidak di rumah atau ketika orangtuanya sedang tidak melihatnya, sang anak mencuri-curi makanan (di rumahnya sendiri) dengan memakanya secara cepat sebagaimana orang yang sudah tiga hari tidak makan. Hal ini dilakukan sang anak agar dapat menyelesaikan makan sesegera mungkin dan tidak ketahuan orangtuanya.
Dari dua contoh di atas, cara yang dilakukan orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah ternyata tidak efektif. Sang anak memang menuruti apa yang menjadi harapan orangtuanya, akan tetapi tidak berangkat dari kesadarannya. Sang anak berubah karena takut kepada orangtuanya yang memarahinya, membentaknya, atau bahkan memukulnya. Menurut sebagian pemahaman para orangtua kita di zaman dahulu, cara seperti ini adalah cara yang paling efektif, katanya. Tetapi, satu hal yang harus diakui, cara seperti ini akan meninggalkan kesan yang menakutkan pada diri sang anak. Bila sudah begini, ada hal yang terkebiri pada diri sang anak, baik itu potensi, kemerdekaan, atau bahkan sang anak malah belajar kekerasan dan kehilangan rasa kasih sayang dalam dirinya.
Ada tiga prasyarat yang harus dipenuhi oleh setiap orangtua agar dapat mengatasi anaknya yang sedang bermasalah secara efektif, yakni:
1. Bersikap Tenang
Orangtua yang panik atau malah kebingungan tidak akan bisa menyelesaikan masalah yang terjadi pada anaknya dengan baik. Kepanikan ini biasanya terjadi ketika sang orangtua tiba-tiba melihat sebuah kenyataan bahwa anaknya ternyata bermasalah. Sungguh, sang orangtua tidak menyangka sebelumnya akan ada kejadian yang tidak diinginkan menimpa anaknya. Di sinilah dibutuhkan ketenangan agar dapat mengurai masalah dengan baik dan mencari jalan keluarnya.

2. Berbuat Sepenuh Kasih dan Sayang
Hal yang paling penting di dalam mengatasi anak yang bermasalah adalah berbuat sepenuh kasih dan sayang. Rasa kasih dan sayang ini hendaknya mendasari setiap langkah yang ditempuh oleh orangtua dalam mengatasi anaknya yang bermasalah. Jadi, bukan karena rasa malu, demi kehormatan keluarga, apalagi didorong oleh kemarahan tertentu.

3. Memahami Anak Sebagai Pribadi yang Berkembang
Memahami anak sebagai pribadi yang berkembang yang dimaksudkan di sini adalah setiap anak mempunyai tahapan demi tahapan dalam berkembang. Sudah tentu, tahapan perkembangan anak sangat berbeda dengan cara berpikir dan memahami segala sesuatu yang dimiliki orangtuanya. Dalam hal ini, orangtua tidak bisa memaksakan kehendak terhadap anaknya agar mengikuti cara berpikir dan memahami sesuatu sebagaimana orangtuanya. Jika memang orangtuanya menghendaki sang anak melakukan apa yang menjadi harapannya hendaknya disesuaikan dengan tahapan perkembangan sang anak.
Demikianlah tiga prasyarat yang harus dimiliki orangtua ketika akan mengatasi masalah yang terjadi pada anaknya. Mengatasi masalah yang satu dengan yang lainnya tidak jarang dibutuhkan pendekatan yang berbeda karena jenis dan penyebab masalahnya pun berbeda. Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi segenap orangtua agar anak-anaknya dapat tumbuh dan berkembang secara menyenangkan dan sesuai dengan harapan orangtua dan keluarga. []

Sumber : http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=18240

Kamis, 10 Maret 2011

Mengajarkan anak Mengerjakan Shalat

        Siapa yang tidak  senang jika anak kita rajin shalat,  pandai melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an, memiliki kesopanan pandai dalam keilmuan dan selalu menyenangkan hati orang tuanya. Itulah gambaran sederhana kriteria anak yang sholeh dan sholehah, mungkin banyak lagi kriteria lainnya. Saya sedikit mau berbagi pengalaman mengajarkan anak kita agar sedari kecil senang melaksanakan shalat. Karena shalat itu adalah sesuatu yang fundamental dalam kehidupan kita sebagai seorang muslim. Teringat kembali pengalaman kecil saya yang waktu itu saya senang ikut orang tua(Ayah dan Ibu) ke masjid. Bukan hanya shalat magrib dan Isya saja dimana 2 waktu shalat ini seringkali lebih ramai dibanding waktu shalat lainnya. Saya waktu itu seringkali ikut shalat shubuh dimasjid sampai-sampai orang-orang tua yang ikut shalat berjama'ah dimasjid mengenal saya karena hanya saya anak kecil yang rajin hadir shalat di waktu subuh. Dalam bayangan saya sekarang ini mungkin saat itu orang tua saya sangat bangga memiliki anak yang rajin shalat. Begitupun yang sedang saya rasakan sekarang.
         Anak saya baru 2 yang tertua baru 5 tahun setengah dan yang kedua 3 tahun. Jika waktu shalat tiba dan saya mendirikan shalat saya tak lupa mengingatkan anak-anak saya untuk ikut shalat. Awalnya ada sedikit penegasan ke mereka tentang bahaya meninggalkan shalat dan terkadang ada perasaan marah kalau berkali-kali saya mengingatkan anak-anak untuk ikut shalat namun mereka tetap asyik saja dengan permainan mereka. Lalu saya menyadari bahwa mereka sebenarnya belum diwajibkan untuk mendirikan shalat sebagaimana kita orang dewasa. Karena Rasulullah memerintahkan kita mengajarkan shalat kepada anak-anak kita dikala mereka telah berusia 7 tahun dan memberikan hukuman jika meninggalkan shalat di usia 10 tahun. Saya pun tidak terlalu membebankan ke mereka, saya hanya berusaha mengajak dan mengingatkan mereka jika waktu shalat ikut shalat dan kalaupun mereka tidak ikut saya memakluminya. Ternyata sikap saya ini di luar dugaan anak-anak malah memperlihatkan sikap yang positif. Jika saya mendirikan shalat saya hanya memanggil mereka dengan menyebut nama mereka satu-satu : ' Ahmad, Umar ayo shalat, yuk kita shalat naak.. terkadang saya pun mengiming2 mereka dengan pahala yang diberikan Allah berupa syurga jika kita rajin mendirikan shalat. Lalu saya shalat sendiri, tapi ternyata mereka berlarian ikut shalat berjama'ah bersama saya, walau terkadang anak saya yang kecil masih diselingi dengan bermain, dalam hati saya  berkata 'tidak apa namanya juga anak kecil'  kadang-kadang pun si kecil tiba-tiba merengek mau pipis, namun kakaknya sepertinya paham dan ia yang menemani adiknya buang air kecil lalu mengelap dan memakaikan celana adiknya lalu mereka kembali melanjutkan kembali shalatnya bersama saya. Sudah beberapa kali anak saya yang kecil  terbangun di subuh hari lalu berkata 'umi mau shalat' lalu saya kembali bertanya 'adik umar mau shalat?' ia mengangguk. Kalau kebetulan saya belum melaksanakan shalat subuh saya ajak ia shalat berjama'ah, dan kalau saya telah usai melaksanakan shalat saya meminta mereka untuk shalat berjama'ah berdua. Saya pun dengan semangatnya memakaikan sarung dan menyediakan sajadah buat mereka karena mereka meminta dipakaikan sarung dan sajadah. Setiap selesai shalat berjama'ah saya selalu menghadirkan kecupan di kepala mereka. Karena ini sudah menjadi kebiasaan malah anak-anak yang duluan memberikan kecupan ke pipi umminya. Alhamdulillah bahagia luar biasa. Berharap kebiasaan ini terbawa hingga besar. Sebenarnya tugas kita orang tua adalah melibatkan mereka dalam rutinitas ibadah kita dan jangan bosan-bosan mengajak mereka untuk ikut shalat berjama'ah bersama. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Senin, 22 November 2010

9 Cara Mengasuh Anak Secara Positif



Cara Mengasuh Anak Secara Positif - Taukah anda bagaimana Cara Mengasuh Anak Secara Positif sehingga anak tidak salah jalan? Berikut ini tips rahasia cara mengasuhan anak secara positif dan baik.

1. Untuk membesarkan anak yang sehat dan bahagia, ajarilah anak untuk mencintai dan menyayangi dirinya sendiri.

Caranya : Perhatikan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Selalu sediakan waktu bagi diri Anda pribadi di tengah kesibukan harian Anda. Sediakan waktu bagi Anda untuk olahraga dan merawat diri, juga meluangkan waktu bagi pengembangan pribadi Anda. Sadarkah Anda bahwa orangtua yang tidak menghargai dirinya sendiri akan membesarkan anak dengan sifat serupa!

Cara Mengasuh Anak
9 Cara Mengasuh Anak Secara Positif

2. Luangkan waktu yang berkualitas setiap hari.

Talmud berkata "Setiap helai rumput punya malaikat yang membungkuk di atasnya dan berbisik,'Tumbuh, tumbuh'." Pemberian terindah dari orang dewasa adalah menjadi malaikat itu bagi seorang anak yang istimewa. Tunjukkan betapa Anda sungguh bergembira atas kehadirannya. Jadilah 'Ahli Gembira' bagi putra-putri Anda. Ubahlah waktu mengerjakan tugas harian menjadi momen yang berharga dan istimewa. Bernyanyi, memeluk, berbagi tawa dan cerita dapat membuat saat-saat biasa menjadi tak terlupakan.

3. Jadilah pendengar yang baik.
Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi orangtua. Betapa sering orangtua menyela dan sibuk dengan nasehat-nasehat bahkan pada saat anak belum selesai berbicara? Simpanlah kekuatiran-kekuatiran Anda pada saat mendengarkan. Cobalah untuk mendengarkan anak Anda sepenuhnya tanpa menghakimi. Anda perlu menahan diri untuk tidak memikirkan atau memberikan pendapat Anda sendiri. Dengarkan mereka dengan hati yang terbuka dan penyayang. Lupakanlah diri Anda dan tempatkanlah diri Anda pada sudut pandang anak Anda. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ganti dari memberikan pendapat. Cara orangtua mendengarkan tanpa menghakimi akan membuat anak merasa diterima dan dimengerti.

4. Seringlah tertawa, sebab kegembiraan itu menular!

Anggaplah pada saat ini diri Anda terpilih untuk melakukan tantangan '30 hari tersenyum bersama keluarga! Anda akan menyaksikan keajaiban dari
kegembiraan dan kasih sayang yang Anda bawa kepada orang-orang di sekitar Anda. Buatlah momen sehari-hari menjadi luar biasa berkat kegembiraan dan semangat yang Anda bawa ke dalamnya.

5. Berilah pengakuan dan penghargaan.
Latihlah mulai dari diri Anda sendiri untuk memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, bahkan yang paling kecil sekalipun, yang telah Anda lakukan hari ini. 'Pagi ini saya berhasil bangun lebih pagi untuk berolahraga', 'Setelahnya saya berhasil menyiapkan sarapan dan mengantarkan putra saya ke sekolah tanpa terlambat', 'Hari ini saya berhasil sabar menghadapi putra saya'. Ajarlah diri Anda untuk memberikan penghargaan yang tulus atas tugas-tugas sederhana yang Anda berhasil Anda selesaikan.

Penghargaan ini akan memberi semangat baru dalam hidup Anda untuk menjalankan tugas yang lebih besar. Luangkanlah waktu 5 menit bagi diri Anda setiap harinya untuk memikirkan dan menuliskan kesuksesan-kesuksesan yang telah Anda raih hari ini. Rasakanlah bagaimana hidup Anda berubah, nikmatilah semangat baru yang mengisi setiap kegiatan Anda.

Bagikanlah penghargaan ini juga kepada anak-anak Anda. Berikanlah pujian, pengakuan dan penghargaan yang tulus kepada mereka. Ingat, penghargaan yang baik menekankan pada tindakan, bukan pada prestasi yang dicapai. Ungkapkan penghargaan Anda secara antusias, sungguh-sungguh, dan penuh cinta. 'Horeee…putriku ingat membereskan tempat tidur. Hip, hip, horee…ia bahkan membantu ibu menyapu lantai!' Berikan pelukan terbesar yang dapat diterimanya. Pengakuan dan pujian yang tulus mempunyai kekuatan untuk mengubah!

6. Disiplinkan anak dengan hormat.
Ajarkanlah anak turut bertanggung jawab atas tugas-tugas rutin dalam rumah tangga. Anak yang secara aktif turut dilibatkan dalam tugas rutin dalam rumah tangga pada masa dewasanya akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar. Perbaiki kesalahan mereka dengan kelembutan namun Anda harus terus-menerus konsisten. Berikan konsekuensi yang wajar dari pelanggaran dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab.

Janganlah memarahi apalagi mempermalukan anak di depan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat. Ajaklah mereka ke tempat sepi untuk berbicara hanya empat mata dengan Anda. Berikan pengertian sejelas-jelasnya mengapa tindakannya salah. Mintalah anak meminta maaf bila ia berbuat salah. Anda pun perlu meminta maaf kepada anak di saat-saat Anda bersalah atau melalaikan janji Anda kepada mereka. Disiplinkanlah anak tanpa menunjukkan kuasa dan kemarahan Anda, maka anak akan belajar tumbuh dengan pengendalian diri yang tinggi. Sampaikan pesan kepada mereka bahwa meskipun perilaku mereka masih perlu ditingkatkan, namun Anda sebagai orangtua tetap menyayangi dan menyukai mereka.

7. Berilah ruang bagi putra-putri Anda untuk melakukan kesalahan.
Ingatlah, bahwa setiap orang, apalagi seorang anak, berhak untuk melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Temukanlah kebaikan dalam kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka anak Anda akan belajar untuk berani berjuang menghadapi tantangan dan resiko.

8. Jalani hidup Anda dengan nilai-nilai yang pasti: kejujuran, tanggung jawab, dan semangat saling membantu.

Tunjukkanlah dalam keseharian Anda bagaimana Anda selalu konsisten dengan nilai-nilai ini. Libatkan juga putra-putri Anda dalam kegiatan sosial yang secara rutin Anda lakukan. Putra-putri Anda pun akan tumbuh dengan karakter positif yang kuat dalam diri mereka.

9. Fokuskanlah perhatian Anda pada hal-hal yang berjalan benar.
Milikilah keyakinan yang meneguhkan keluarga Anda di saat-saat sulit. Anak-anak Anda akan belajar menjadi pribadi yang optimis dan bersyukur setiap hari. Latihlah sikap positif dengan menemukan hal-hal positif dalam setiap hari Anda dan bersyukurlah atasnya selalu. Cintailah anak Anda dengan tulus tanpa syarat, dan ungkapkanlah besarnya kasih sayang Anda tersebut kepada mereka. Anak yang berada dalam kasih sayang yang tulus akan tumbuh dengan lebih bergembira, percaya diri, menyenangkan, serta dapat diandalkan. 
 
http://www.forumkami.com/forum/keluarga-ibu-anak/49956-9-cara-mengasuh-anak-secara-positif.html

MENGHADAPI ANAK PEMARAH

oleh KORAN FESBUK pada 22 November 2010 jam 17:30
Ada sedikit tips dan trik untuk menghadapi kemarahan anak dengan melihat penyebab dan sumber kemarahan anak.

A. Jika anak marah karena JANJI PADA ANAK YANG TIDAK DITEPATI, berikut CARA TIPS & TRIK BERJANJI SECARA BIJAK :
1. Ketika membuat janji sebaiknya gunakan konsep waktu yang jelas. Bila perlu tunjukkan kalender kepada anak dan beritahu kapan kita bisa menepati janji. Jangan gunakan kata “nanti” karena dapat diartikan si anak hari ini atau besok.
2. Sebaiknya jangan mengobral janji pada anak yang belum tentu dapat kita tepati. Pikirkan dulu baik-baik ketika akan membuat janji pada anak.
3. Jangan menjanjikan sesuatu agar si anak berhenti menangis atau berhenti bertingkah nakal, karena anak akan cenderung mengulanginya lagi untuk memperoleh sesuatu yang diinginkannya.
4. Buat reminder atau catatan janji kita pada anak, perlakukan mereka seperti klien kita di kantor bahkan jadikan mereka klien utama anda.

B. Jika anak marah karena MENCARI PERHATIAN, berikut CARA TIPS & TRIK MENGHADAPI MEREKA :
1. Memeluknya dan mengungkapkan kata sayang pada anak adalah ungkapan paling mudah yang dapat diartikan anak sebagai wujud kasih sayang orangtua.
2. Tetap bersikap tenang, jangan panik dan buru2 memenuhi keinginan mereka ketika sedang marah, jika tidak kemungkinan besar anak akan mengulangi perilaku marah mereka.
3. Menggoda dengan humor dan menggelitik anak, sambil menanyakan mengapa mereka marah. Terkadang cara ini cukup berhasil.
4. Hindari kata “tidak” dan “jangan” pada anak. Gunakan suara tenang jangan berteriak dan bernada marah.
5. Sampaikan pada anak ada cara lain yang lebih baik untuk memperoleh perhatian, saat menyampaikan ini usahakan anda dekati mereka posisikan diri anda sejajar dengan anak dan lakukan kontak mata. Berikan pujian positif apabila anak menuruti anda dan berperilaku baik.
6. Sampaikan pada anak untuk bersikap sabar, apapun yang mereka inginkan perlu waktu dan usaha. Dan beri pujian bila ia mampu untuk lebih bersabar.
7. Berikan timeout dengan membiarkan anak untuk menenangkan diri disuatu ruangan yang tenang. Jangan pernah mengatakan “masuk kamar sekarang, dan jangan keluar sampai kamu perbaiki tingkah lakumu !”, cukup katakan pada mereka “tenangkan dirimu dulu jika merasa lebih baik baru kita bicara”.

C. Jika anak marah karena DIPAKSA DISIPLIN, berikut CARA TIPS & TRIK MENUJU DISIPLIN YANG EFEKTIF :
1. Untuk mengubah perilaku buruk anak, orangtua juga harus mengetahui motivasi dibalik tingkah lakunya. Misalnya karena bosan, cari perhatian, balas dendam atau ingin unjuk kekuatan.
2. Tentukan batasan yang jelas pada anak apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dengan detil.
3. Terapkan batasan atau aturan tersebut pada setiap anak dalam keluarga termasuk orangtua.
4. Konsekuensi disiplin yang sama seperti kasus sebelumnya. Tanpa konsekuen dalam disiplin akan membingungkan anak.
5. Jangan memberi disiplin dimuka umum akan membuat anak malu dan marah, bicarakanlah berdua saja dengan anak.
6. Dibutuhkan ketegasan orangtua dalam menerapkan disiplin, namun jangan melakukannya dengan berteriak dan membentak anak. Sampaikan semuanya dengan tenang tapi jelas.
7. Jangan pernah menghukum anak secara fisik seperti memukul.
8. Berikan sanksi segera setelah anak melakukan kesalahan jangan pernah menundanya, hal ini akan membuat anak mengira orangtua tidak sungguh-sungguh menerapkan disiplin.
9. Orangtua perlu melakukan pengawasan sejauh mana anak bersungguh-sungguh menjalankannya.
(KF/AA/idshvoong)

Senin, 25 Oktober 2010

5 Poin Pendidikan Anak Dalam Islam

oleh Kembang Anggrek pada 26 Oktober 2010 jam 13:06

Bunda, apakah ilmumu hari ini? Sudahkah kau siapkan dirimu untuk masa depan anak-anakmu? Bunda, apakah kau sudah menyediakan tahta untuk tempat kembali anakmu? Di negeri yang Sebenarnya. Di Negeri Abadi? Bunda, mari kita mengukir masa depan anak-anak kita. Bunda, mari persiapkan diri kita untuk itu.

pertama  : pancangkanlah cita-cita  dalam mendidik anak-anakmu  yaitu untuk kesuksesan di akhirat yang abadi.  Bunda, tahukah dikau bahwa kesuksesan adalah cita-cita yang panjang dengan titik akhir di Negeri Abadi? Belumlah sukses jika anakmu menyandang gelar atau jabatan yang tertinggi, atau mengumpulkan kekayaan terbanyak. Belum Bunda, bahkan sebenarnya itu semua tak sepenting nilai ketaqwaan. Mungkin itu semua hanyalah jalan menuju ke Kesuksesan Sejati. Atau bahkan, bisa jadi, itu semua malah menjadi penghalang Kesuksesan Sejati.

Gusti Allah Yang Maha Mencipta Berkata dalam KitabNya:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS 3:185) 

Begitulah Bunda, hidup ini hanya kesenangan yang menipu, maka janganlah tertipu dengan tolok ukur yang semu. Pancangkanlah cita-cita untuk anak-anakmu di Negeri Abadi, ajarkanlah mereka tentang cita-cita ini. Bolehlah mereka memiliki beragam cita-cita dunia, namun janganlah sampai ada yang tak mau punya cita-cita Akhirat.

Kedua, setelah memancangkan cita-cita untuk anak-anakmu, maka cobalah memulai memahami anak-anakmu. Ada dua hal yang perlu kau amati:

Pertama, amati sifat-sifat khasnya masing-masing. Tidak ada dua manusia yang sama serupa seluruhnya. Tiap manusia unik. Pahami keunikan masing-masing, dan hormati keunikan pemberian Allah SWT.

Yang kedua, Bunda, fahami di tahap apa saat ini si anak berada. Allah SWT mengkodratkan segala sesuatu sesuai tahapan atau prosesnya. Anak-anak yang merupakan amanah pada kita ini, juga dibesarkan dengan tahapan-tahapan.
Tahapan sebelum kelahirannya merupakan alam arwah. Di tahap ini kita mulai mendidiknya dengan kita sendiri menjalankan ibadah, amal ketaatan pada Allah dan juga dengan selalu menjaga hati dan badan kita secara prima. Itulah kebaikan-kebaikan dan pendidikan pertama kita pada buah hati kita.

Pendidikan anak dalam Islam, menurut Sahabat Ali bin Abitahalib ra, dapat dibagi menjadi 3 tahapan/ penggolongan usia:
  1. Tahap BERMAIN (“la-ibuhum”/ajaklah mereka bermain), dari lahir sampai kira-kira 7 tahun.
  2. Tahap PENANAMAN DISIPLIN (“addibuhum”/ajarilah mereka adab) dari kira-kira 7 tahun sampai 14 tahun.
  3. Tahap KEMITRAAN (“roofiquhum”/jadikanlah mereka sebagai sahabat) kira-kira mulai 14 tahun ke atas.
Ketiga tahapan pendidikan ini mempunyai karakteristik pendekatan yang berbeda sesuai dengan perkembangan kepribadian anak yang sehat. Begitulah kita coba memperlakukan mereka sesuai dengan sifat-sifatnya dan tahapan hidupnya.

Hal ketiga adalah memilih metode pendidikan. Setidaknya, dalam buku dua orang pemikir Islam, yaitu Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) dan Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam), ada lima Metode Pendidikan dalam Islam.

Yang pertama adalah melalui Keteladanan atau Qudwah, yang kedua adalah dengan Pembiasaan atau Aadah, yang ketiga adalah melalui Pemberian Nasehat atau Mau’izhoh, yang keempat dengan melaksanakan Mekanisme Kontrol atau Mulahazhoh, sedangkan yangterakhir dan merupakan pengaman hasil pendidikan adalah Metode Pendidikan melalui Sistem sangsi atau Uqubah.

Bunda, jangan tinggalkan satu-pun dari ke lima metode tersebut, meskipun yang terpenting adalah Keteladanan (sebagai metode yang paling efektif).

Setelah bicara Metode, ke empat adalah Isi Pendidikan itu sendiri. Hal-hal apa saja yang perlu kita berikan kepada mereka, sebagai amanah dari Allah SWT. Setidak-tidaknya ada 7 bidang. Ketujuh Bidang Tarbiyah Islamiyah tersebut adalah: (1) Pendidikan Keimanan (2) Pendidikan Akhlaq (3) Pendidikan Fikroh/ Pemikiran (4) Pendidikan Fisik (5) Pendidikan Sosial (6) PendidikanKejiwaan/ Kepribadian (7) Pendidikan Kejenisan (sexual education). Hendaknya semua kita pelajari dan ajarkan kepada mereka.


Ke lima, kira-kira gambaran pribadi seperti apakah yang kita harapkan akan muncul pada diri anak-anak kita setelah hal-hal di atas kita lakukan? Mudah-mudahan seperti yang ada dalam sepuluh poin target pendidikan Islam ini: Selamat aqidahnya, Benar ibadahnya, Kokoh akhlaqnya, Mempunyai kemampuan untuk mempunyai penghasilan, Jernih pemahamannya, Kuat jasmaninya, Dapat melawan hawa nafsunya sendiri, Teratur urusan-urusannya, Dapat menjaga waktu, Berguna bagi orang lain.

Insya Allah, Dia Akan Mengganjar kita dengan pahala terbaik, sesuai jerih payah kita, dan Semoga kita kelak bersama dikumpulkan di Negeri Abadi. Amin. Wallahua’lam



Catatan: 
  • Lima Poin Pendidikan Anak: -1.Paradigma sukses-2.Mengenal Tahapan dan Sifat-3.Metode-4.Isi-5.Target.
  •  Buku Muhammad Quthb (Manhaj Tarbiyah Islamiyah) diterjemahkan dengan judul “Sistem Pendidikan Islam” terbitan Al-Ma’arif Bandung, dan buku Abdullah Nasih ’Ulwan (Tarbiyatul Aulad fil Islam) diterjemahkan dengan judul Pendidikan Anak Dalam Islam.
http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/kembang-anggrek/5-poin-pendidikan-anak-dalam-islam/10150308392050570

Kamis, 14 Oktober 2010

Terlalu Lama di TV dan Game Berdampak Buruk pada Anak

Membiarkan anak terlalu lama nongkrong di depan TV berdampak buruk pada segi psikologis dan hubungan sosialnya
Hidayatullah.com— Berapa lama waktu dihabiskan anak Anda berlama-lama di layar TV dan nonton game? Nah, sebaiknya para orangtua berhati-hati memberikan waktu tepat bagi anak untuk menonton TV dan bermain game. Penelitian terbaru menunjukkan, lebih dari dua jam sehari menonton televisi ataupun bermain "video game" di komputer dapat memberikan risiko yang lebih besar bagi anak-anak pada masalah kejiwaan apapun tingkat aktivitas mereka, demikian menurut sebuah penelitian di Inggris pada Selasa (12/10).
Para peneliti dari Universitas Bristol meneliti, lebih dari 1.000 anak kecil yang berumur sepuluh hingga 11 tahun. Selama lebih dari tujuh hari, mereka mengisi kuesioner yang menanyakan intensitas waktu yang mereka habiskan sehari-hari di depan televisi atau komputer dan menjawab pertanyaan yang menjelaskan keadaan jiwa mereka, termasuk emosi, tingkah laku, dan masalah yang bersangkutan lainnya sementara sebuah pengukur tingkah laku (accelerometer) memantau aktivitas fisik mereka.
Jumlah selisih kerumitan kejiwaan secara signifikan sebanyak sekitar 60 persen lebih tinggi bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam selama satu hari di depan salah satu layar tersebut, dibandingkan dengan mereka yang menonton pada waktu yang lebih sedikit, kata laporan para peneliti di dalam jurnal Pediatrics.
Angka selisih tersebut menjadi berlipat bagi anak kecil yang menghabiskan waktu lebih dari dua jam di depan kedua jenis layar tersebut selama sehari. Para peneliti menemukan hasil ini tanpa memerhatikan jenis kelamin, umur, tingkat pubertas, atau tingkat pendidikan dan kemampuan ekonomi dan tidak memantau keaktifan anak tersebut selama sisa harinya.
"Kami mengerti aktivitas fisik baik bagi kesehatan jiwa dan tubuh pada sang anak dan terdapat beberapa bukti bahwa menonton layar itu mengakibatkan kelakuan yang negatif," ujar Dr. Angie Page kepada Reuters Health.
"Namun hal itu masih belum jelas apakah tingkat aktivitas fisik akan "mengimbangi" tingginya tontonan pada layar itu bagi anak kecil." Para peneliti menemukan masalah kejiwaan jauh meningkat jika anak kecil mengalami pelatihan sehari-hari mulai dari tingkat yang sedang hingga ketat selama kurang dari satu jam atas meningkatnya tontonan pada layar itu.
Sulit bersosialisasi
Bagaimanapun, aktivitas fisik tidak hadir untuk mengimbangi konsekuensi kejiwaan pada waktu tontonan layar itu. Para peneliti mengatakan waktu yang tetap juga tidak berhubungan dengan mental kelakuan yang baik.
"Tampaknya lebih kepada apa yang kamu lakukan pada waktu tetap itu yang menjadi penting," ujar Page, menjelaskan kurangnya dampak negatif ditemukan pada kegiatan seperti membaca dan melakukan pekerjaan rumah.
Terlalu lama membiarkan anak nongkrong di depan televisi berdampak buruk pada segi psikologis dan hubungan sosialnya. Demikian diungkapkan Ilmuwan Universitas melalui jurnal Pediatrics AS, Senin (11/10).
Dijelaskan para peneliti, anak yang asyik menonton TV atau bermain game lebih dari dua jam sehari mengalami kesulitan berinteraksi dengan teman sebaya. Selain itu, mereka juga dikhawatirkan mengalami masalah psikologis mulai dari emosional yang labil, terlalu aktif bergerak sendiri atau hiperaktif, hingga tidak menyukai tantangan.

"Alhasil, mereka lebih suka menyendiri ketimbang berkumpul dengan kawan atau keluarga," tegas para peneliti.
Universitas yang didirikan sejak 1909 itu juga mengingatkan para orangtua, agar mengontrol penggunaan fasilitas media digital tersebut. Mereka diingatkan untuk memberikan berbagai aktivitas fisik terhadap anak, guna menangkal dampak negatif TV, seperti mengikuti klub olahraga basket, dan softball.
"Dengan berolah raga, anak belajar berinteraksi sosial, serta melatih seluruh otot dan syarafnya," kata para peneliti. "Penelitian ini berdasarkan survei terhadap 1.013 anak antara 10 tahun hingga 11 tahun, yang dilengkapi dengan alat ukur accelerometer di pinggangnya."[afp/rtr/ant/cha/hidayatullah.com]
 

Selasa, 05 Oktober 2010

Pendidikan Anak Usia Dini >> Penelitian Professor Bloom

February 4th, 2010 by nilna Leave a reply »
bloom
.
Benyamin s. Bloom, professor pendidikan dari Universitas Chicago, menemukan fakta yang cukup mengejutkan:
Ternyata 50% dari semua potensi hidup manusia terbentuk ketika kita berada dalam kandungan sampai usia 4 tahun.  Lalu 30 % potensi berikutnya terbentuk pada usia 4 – 8 tahun.
Ini berarti 80% potensi dasar manusia terbentuk sebagian besar di rumah, sebelum mulai masuk sekolah.
Akan seperti apa kemampuannya, nilai-nilai hidupnya, kebiasaannya, kepribadiannya dan sikapnya … 80% tergantung pada hasil pendidikan orang tua nya.
Sadar atau tidak. Baik “dibentuk” secara sengaja atau pun tidak sengaja!
Artinya, akan jadi siapa anak kita, bagaimana cara berpikir dan bersikapnya ditentukan sepenuhnya oleh informasi dan pengetahuan apa yang tersimpan di otaknya.
Panca indera adalah pintu masuk yang langsung masuk ke pusat kecerdasan anak.
Apapun yang ia dengar, apapun yang ia lihat, apapun yang ia rasakan, semua langsung tersimpan (terinstall filenya ) di otak anak.
Ia juga belajar tentang sikap dan kepribadian dari orang-orang yang mengasuhnya. Bagaimana ayah ibunya berbicara, apa yang dikatakan, bagaimana ia bereaksi terhadap emosi-emosi tertentu, bagaimana orangtua bereaksi terhadap tekanan amarah, tangisan, dan kerewelan.
Semua bahasa komunikasi anak (dalam bentuk gerakan, tangisan dan kerewelan) adalah alat-alat ia belajar.
GURU PERTAMA ADALAH ORANG TUA

Hal pertama yang langsung kita sadari adalah, sebagai ayah dan ibu, kita adalah guru anak-anak kita. Baik kita melakukannya dengan benar ataupun “nggak sengaja” salah.
Pertanyaan berikutnya, sudah tahukah kita kurikulum apa yang sedang berlangsung pada usia 0 – 4 tahun atau dalam 8 tahun perkembangan pendidikan anak-anak kita?
Ternyata, kebanyakan orang tua tidak punya “kurikulum” pendidikan anak usia dini ini. Tentu tak heran akhirnya kurikulum “alamiah” lah yang diterapkan.
Kurikulum yang akhirnya dipelajari anak-anak kita adalah kurikulum-alamiah yang diciptakan oleh lingkungan tempat kita saat ini hidup dan berada. Lewat program-program di televisi, pergaulan di sekitar rumah kita, juga pergaulan antar penghuni di dalam rumah tangga kita sendiri.
Apa yang “diajarkan” (tanpa sengaja) pada bayi dan anak-anak kita?
Bisa jadi, kalau kita tak awas, secara keilmuan bisa jadi belum ada yang kita ajarkan. Bahkan yang terjadi sebaliknya, banyak sekali hal negatif yang “dipelajari” anak-anak kita dari “menyerap” semua input yang ada di sekitarnya.
Lalu adakah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang secara sengaja kita lakukan? By design? Itulah tugas rumah, PR kita semua …
Salah satu ALAT yang bisa digunakan adalah menjadikan kegiatan membaca sebagai salah satu sumber INPUT OTAK ANAK-ANAK kita.
Kosa kata apa yang kita input, akan sangat mempengaruhi mereka. Oleh sebab itulah orang tua sangat-sangat penting memahami CARA BAGAIMANA agar bisa meng-input otak anak-anaknya sesuai dengan cara kerja otak mereka.
Mudah-mudahan ebook belajar membaca dan bahan-bahan atau alat-alat belajar yang kami sediakan untuk anda bisa menjadi salah satu sarana efektif bagi orang tua yang peduli dengan masa depan anak-anaknya.
Di dalam ebook itu akan diberikan cara-cara yang efektif menjadikan kegiatan membaca, bukan hanya untuk BISA MEMBACA, melainkan justru UNTUK INPUT KEPRIBADIAN sekaligus MENGAKTIFKAN OTAK BELAJAR mereka, dengan cara yang tidak akan merusak kesenangan anak terhadap kegiatan tersebut. Bahkan mereka sangat haus, sangat nyaman, sangat alami. Amin …
Silakan klik disini, bagi yang mau mendownloadnya >>
_____
Penulis:  Nilna Iqbal, anggota tim redaksi Belajar-Membaca.com.
Beberapa artikelnya bisa diakses di PustakaNilna.com

http://belajar-membaca.com/pendidikan-anak-usia-dini/

Senin, 04 Oktober 2010

TIPS: Asyik, Cara Cepat Ajarkan Anak Membaca


oleh Salwa Fattah pada 06 Juli 2010 jam 21:07

PKK DKI - Kita harus percaya bahwa anak-anak memiliki kemampuan belajar yang tidak tertandingi, karena banyak bukti sudah kita lihat dalam kehidupan sehari-hari mereka bisa menghafal iklan, nyeletuk ketika kita berbicara dengan orang lain, dan menyerap kata-kata yang kita ucapkan.

Dalam bukunya 'How to Teach Your Baby to Read', Glen Doman mengatakan bahwa pada dasarnya kemampuan anak khususnya balita sangat luar biasa. Bahkan, kata Doman, otak anak yang separuhnya sudah dilakukan pembedahan Hemispherectomy (membuang separuh fisik otaknya) bisa punya kemampuan sama dengan anak yang otaknya utuh dan normal.

Sebetulnya, dalam metode Doman, mengajar membaca pada anak balita itu mudah dan sederhana. Hanya saja, saking mudah dan sederhana itulah kita justeru seringkali mengabaikan, menunda, serta menyepelekannya, sehingga akhirnya waktu terlewat dan semua sudah terlambat.

Mudah dan sederhana, namun bukan berarti bisa "seenaknya". Ada hal-hal perlu dilakukan dan penting dilakoni, yang tentu agar tujuan mengajari membaca pada anak-anak tercapai dengan hasil memuaskan.

Apa yang Boleh?

- Jangan membuat anak menjadi bosan dengan maju terlalu cepat, maju terlalu lambat, serta terlalu sering memberi tes

- Jangan memaksa anak, apapun bentuknya

- Jangan tegang, sehingga Anda lebih baik menunda jika suasana tidak mendukung, baik pada Anda maupun si anak

- Jangan dulu mengajarinya abjad, namun ajari ia kata-kata

Yang Harus?

- Bergembiralah dan buat suasana hati anak senang dan nyaman menerima "pelajaran" dari Anda

- Selalu ciptakan cara baru. Ingat, bagaimanapun jeleknya cara Anda mengajar, hampir bisa dipastikan bahwa ia akan belajar lebih banyak daripada tidak diajarkan sama sekali.

Metode Glen Doman (Tahap I)

Sebaiknya tunda dulu mengajarkan anak Anda tentang huruf, karena unsur terkecil dari sebuah bahasa adalah kata, bukan huruf.

Bentuk kata adalah kongkrit, sedangkan huruf adalah abstrak. Sementara, mengajar anak akan lebih mudah pada hal-hal yang kongkrit, bukan hal-hal abstrak yang membuatnya berpikir terlalu dalam atas apapun yang Anda ajarkan.

Salah satu cara mudah dan sederhana mengajarkan anak membaca melalui pengenalan kata adalah dengan menggunakan Metode Glen Doman. Simak langkahnya berikut ini;

1. Buat 15 kata dibagi dalam 3 set kategori berbentuk kartu dari karton dan spidol. Masing-masing terdiri Set Kategori A, Set Kategori B dan Set Kategori C yang berbeda

2. Contoh, gunakan tema nama-nama dalam anggota keluarga di Set A (ayah, ibu, tante, kakek, nenek), nama buah di Set B (apel, pisang, jambu, jeruk, durian), dan nama hewan di Set C (ayam, itik, angsa, ikan, kuda)

3. Ambil satu kartu yang paling depan/tumpukan karton pertama di Set A, sebutkan (bacakan) dan ajak anak menirukannya.

-ingat, tak perlu jelaskan artinya tentang apa yang dibaca oleh si anak

-tak lebih dari satu detik, ambil kartu dari belakang dan lakukan seperti yang pertama

-perhatikan wajah anak ketika menyebutkan kata, amati kata yang disukainya dan yang tidak

-jangan minta anak mengulang kata-kata yang kita bacakan tadi

-setelah membaca lima kata, stop pelajaran ini. Peluk anak Anda dan puji dia dengan menunjukkan Anda bangga atas apa yang dilakukannya

4. Di hari pertama pelajaran, lakukan untuk Set A sebanyak tiga kali (3x)

5. Hari kedua lakukan Set A = 3x, Set B = 3x

6. Hari ketiga Set A = 3x, Set B = 3x, dan Set C = 3x

7. Hari keempat sampai dengan keenam sama seperti hari ketiga

-setiap kata dibaca maksimal antara 15 - 25 kali. Setelah sebanyak itu, kata harus diganti. Caranya, setelah hari keenam ambil 1 kata dari setiap Set dan gantilah dengan sebuah kata baru

-setiap satu Set yang Anda bacakan selesai lansung diacak, hal ini supaya anak tidak bisa menebak urutan kata

-jangan pernah mengulang kata yang sudah Anda bacakan, sehingga tidak salah Anda menandai tiap kata yang sudah Anda bacakan dengan pensil. Tanda ini juga bisa dijadikan patokan sudah berapa kali kata ini kita bacakan.



sumber: kompas.com
· · Bagikan

Rumus Mendidik Anak Agar Sholeh dan Cerdas


oleh Salwa Fattah pada 13 Juni 2010 jam 8:18
Rumus Mendidik Anak Agar Sholeh dan Cerdas


ImageBelakangan ini ada permasalahan yang cukup intensif saya pikirkan: bagaimana merumuskan parameter kesuksesan pada anak? Dengan semakin besarnya anak-anak, rupanya diperlukan perumusan ulang jawaban atas pertanyaan tadi. Untuk merefresh masalah pendidikan anak dan inisialisasi jawaban, saya membaca ulang kumpulan pemikiran yang sempat saya tuliskan di bawah ini. Saya ingin berbagi dengan sahabat sekalian dengan memposting ulang, dengan tambahan pada bagian kecerdasan relijius. Semoga juga bermanfaat bagi sahabat sekalian. Juga saya akan sangat berbahagia jika ada feed-back dari sahabat semua ..Salam, Adi JM. @Chiba-Japan



Anugerah dan Amanah1)

Anak merupakan anugerah termahal bagi orang tua. Banyak orang tua yang mengharapkannya tapi tak kunjung diberi, sementara banyak juga orang tua yang dengan mudah memperolehnya. Tapi, jangan pula merasa bangga dengan hadirnya anak, jika kita tak mampu membekalinya dengan pendidikan yang benar sesuai ajaran Islam. Karena, selain anugerah, anak juga merupakan amanah “berat” yang dititipkan Allah kepada orang tuanya, terlebih lagi di tengah-tengah merosotnya nilai-nilai etika, moral dan gencarnya serangan permisifisme (budaya serba boleh) melalui media elektoronik, tanggungjawab orang tua menjadi kian berat.

Anak memang anugerah, bahkan di dalam al-Qur’an dikatakan sebagai perhiasan hidup, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS. al-Kahfi : 46). Bayangkan, jika hidup kita tanpa perhiasan, semuanya akan terasa suram. Untuk itu kita patut bersyukur atas nikmat Allah yang dititipkannya melalui anak-anak kita. Rasa syukur itu dapat kita wujudkan dengan mengasuh dan mendidik mereka berlandaskan fitrah dan kasih sayang.

Selain sebagai anugerah, anak diberikan kepada orang tuanya sebagai amanah ”berat” untuk dipelihara, dididik dan dibina agar berkualitas dan tangguh. Seperti diperintahkan dalam al-Qur’an, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. an-Nisaa’ : 9).

Setiap orang tua harus menyadari amanah ini. Karena orang tualah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Jika orang tua tak memiliki kemampuan untuk mendidik, tanggungjawabnya memang dapat dibagi kepada guru di sekolah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Namun peran sentral harus tetap pada orang tua. Caranya, orang tua dapat memilih guru atau sekolah untuk anak-anaknya dengan kriteria yang tepat. Misalnya, guru atau sekolah yang dipilih harus mampu membina anak-anak dengan berbagai disiplin ilmu atas dasar akidah, akhlak, dan ajaran Islam.

Untuk Cerdas Relijius: Konsep 3T2)

"Didiklah anak-anakmu pada tiga perkara: mencintai Nabimu, mencintai ahli baitnya, dan membaca al-Qur’an” (HR. ath-Thabrani). Tiga hal yang diperintahkan Nabi untuk diajarkan kepada anak-anak kita terkait dengan puncak dan asas berbagai kecerdasan pada anak kita. Bisa jadi sebagian orang menyebut kecerdasan ini dengan kecerdasan spiritual atau kecerdasan relijius.

Teladani Nabi saw,

Memberikan teladan adalah metoda paling jitu dalam pendidikan anak. Karenanya memperkenalkan pribadi Nabi Muhammad saw sejak dini akan menjadi fondasi penting pembangunan akhlaq Islam pada anak-anak. Jadikanlah sosok Nabi itu hidup dalam benak mereka dan sangat mereka cintai. Tak ada pribadi yang lebih indah budi pekertinya daripada Nabi Muhammad. Dan engkau (Muhammad) sungguh berakhlaq mulia (QS. al Kalam:4).

Dengan menghadirkan pribadi Nabi dalam keseharian anak-anak, mereka akan lebih mudah melaksanakan akhlaq Islami, sebab ada sosok yang menjadi panutan di hadapan mereka. Menghadirkan sosok Nabi misalnya dapat dilakukan dengan mengisahkan betapa beliau pribadi yang penyayang kepada sesama manusia, betapa beliau amat penyantun (hilm), betapa beliau pemberani dalam membela kebenaran, betapa beliau taat kepada Allah dengan tekun beribadah dll.

Teladani Keluarga Nabi,

Keluarga Nabi adalah istri dan anak-anak beliau dan juga menantu beliau yang shalih. Tidak diragukan merekalah orang-orang terdekat dengan Nabi. Mereka pulalah orang-orang yang paling mencintai Nabi dan berusaha melanjutkan perjuangan Nabi dalam menyebarkan ajaran Islam.

Kisah tentang mereka pun akan menjadi inspirasi sangat berharga bagi anak-anak kita dalam meneladani Nabi. Mungkin kita mesti banyak menggali bagaimana Nabi ikut serta mendidik Hasan dan Husein, cucu beliau, yang bahkan kerap beliau anggap sebagai anak-anaknya sendiri. Tentu saja, kita pun mesti menggali kisah bagaimana Nabi dan Sayyidatinaa Khadijah mendidik putri-putri mereka di masa kecilnya, yang bisa kita fahami dari petikan kisah Fatimah az Zahra ra, putri beliau. Pada masa kecilnya Fatimah menyaksikan bagaimana ayahandanya gigih menda’wahkan Islam dan tidak sedikit mendapatkan tentangan keras dari orang-orang.

Tentu juga kita dapat banyak belajar dari bagaimana Nabi mengasuh dan mendidik cucu beliau Hasan dan Husein -yang beliau anggap sebagai anak-anak sendiri-, di mana pada saat yang sama beliau memimpin umat Islam membangun masyarakat Islam di jazirah Arab.

Tilawah Quran,

Tilawah ini sangat penting artinya dalam pendidikan. Tilawah menjadi salah satu tugas Nabi dalam mendidik manusia (QS. Ali Imran:164). Tilawah artinya membaca. Untuk kalangan yang tidak berbahasa Arab, tentu saja tilawah yang benar mesti disertai usaha untuk mengetahui apa arti bacaan al Quran.

Untuk itu, dalam kaitan pendidikan anak, kita mesti mengusahakan agar anak kita mengetahui paling tidak makna-makna penting dari ajaran Islam sejak dini. Misalnya sejak kecil kita telah menanamkan aqidah yang benar; Memperkenalkan siapakan Allah dan bahwa Dia Pencipta segala sesuatu yang ada. Anak pun sejak dini diperkenalkan dengan ibadah shalat. Bahkan Nabi memberikan patokan usia 7 tahun sebagai usia di mana orang tua serius memperhatikan shalat anaknya dan ketika mencapai usia 10 tahun sudah boleh memberikan hukuman apabila si anak lalai dalam menunaikan sholatnya.

Allah swt secara khusus mengangkat dialog Luqman al-hakim dengan anaknya pada surat Luqman. Nasihat Luqman ini merupakan model dialog yang amat kaya dengan pesan spiritual. Di dalamnya terdapat pesan orang tua kepada anaknya untuk:

1. Senantiasa bersyukur, berterima kasih kepada Allah atas segala karuniaNya;

2. Tidak mempersekutukan Allah dengan siapapun: ikhlas dalam beribadah;

3. Menghayati kasih sayang orang tua dan berterima kasih kepada mereka;

4. Mengingat akan adanya hari di mana perbuatan sekecil apapun akan mendapat ganjaran dari Allah, Yang Mahalembut dan Maha Melihat;

5. Menegakkan sholat dan menyuruh manusia berlaku benar dan mencegah mereka dari berbuat jahat (= konsep menegakkan kebenaran dalam diri dan menyeru orang lain);

6. Menghindari sikap sombong, perilaku angkuh dan berbangga-banggaan, karena hal ini tidak disukai Allah;

7. Bersikap sederhana dalam berjalan dan lemah lembut dalam bertutur kata (dua sikap sehari-hari yang menjadi cerminan keseluruhan karakter diri).

Jadi, perintah mengajarkan "tilawah" ini dapat kita maknai sebagai pengajaran nilai ajaran Islam sejak dini kepada anak-anak ini. Wa Allahu a'lam bish shawwab.

Tujuh Sisi Kecerdasan2) 3)

Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya (Ali bin Abi Thalib ra). Adalah Dr. Howard Gardner (1983) yang mencetuskan 7 jenis kecerdasan dalam menjelaskan cakupan potensi manusia secara lebar –idenya dikenal dengan pengembangan multiple intelligence-. Thesisnya memberikan pencerahan pada dunia pendidikan yang sebelumnya lebih banyak memberikan fokus perhatian pada sisi language and mathematical intelligence. Lebih dari itu ide Dr. Howard juga menyadarkan orang akan keterbatasan pengukuran kecerdasan hanya berbasis IQ.

Untuk para pendidik ide multiple intelligence ini menjadi inspirasi dalam pengkayaan kurikulum pendidikan sekolah, terutama dalam memperkaya metode penyampaikan materi pelajaran dengan memanfaatkan ke-tujuh potensi kecerdasan manusia ini. Dr. Thomas Armstrong adalah salah seorang yang cukup serius mengembangkan ide multiple intelligence ini.

i. Cerdas Berbahasa,

Adalah kemampuan anak dalam mengutarakan maksud atau berkomunikasi tertentu secara tapat dan runtut. Pada anak-anak, ini diawali dengan kemampuan verbal. Semakin meningkat usia anak kemampuan komunikasi dalam bentuk tulisan akan meningkat. Orang tua mesti telaten membimbing agar cerdas dalam berbahasa.

Anak dengan kecerdasan lebih dalam berbahasa akan nampak pada kesukaannya dengan mengarang, membaca, berdiskusi hingga berpidato di depan umum.

ii. Cerdas Berlogika dan Berhitung,

Adalah kemampuan anak dalam menalar sesuatu. Pada anak-anak ini misalnya dimulai dengan mengurutkan atau mengklasifikasikan sesuatu. Kemudian anak mulai mengenal banyak, sedikit dan mengenal jumlah. Termasuk dalam masalah logika juga, si anak mulai mengenal baik dan buruk dengan lebih tajam [hal ini menjadi salah satu kecerdasan relijius]. Hubungan sebab-akibat juga menjadi bagian kecerdasan ini.

Anak dengan kecerdasan lebih dalam berhitung akan nampak pada kesukaannya dalam permainan strategi (misalnya catur), mainan puzzle logika (misalnya Rubik’s Cube) serta memiliki ketepatan dan kecepatan dalam menyelesaikan soal-soal matematika.

iii. Cerdas Berimajinasi Ruang (Spasial),

Adalah kemampuan anak untuk menggambarkan ruang tiga dimensi dalam benaknya. Keterampilan anak bermain lego (mainan 3 dimensi) atau kesukaan anak dengan acara-acara bermanfaat di televisi menjadi awal pengembangan keerdasan ini.

Kesenangan menggambar atau bentuk visualisasi pada media komputer menjadi salah satu ciri kecerdasan spasial.

iv. Cerdas Bernada dan Berirama (Musik),

Adalah kemampuan anak untuk mengenal harmoni nada dan ketukan (ritme) lagu. Anak dengan potensi musikal ini nampak sangat senang dengan lagu atau musik dan dengan cepat dapat mengikuti lagu-lagu yang baru.

Jika kecerdasan ini diterus dilatih daya olah vokal anak akan meningkat dan bila diperkenalkan dengan alat musik, maka kemampuan motoriknya akan cepat menyesuaikan diri dan mengekspresikan kecerdasan dalam produk musik.

v. Cerdas Bergerak (Mengatur Tubuh),

Adalah kemampuan anak untuk menggerakan tubuhnya dengan serasi. Anak-anak dengan kecerdasan ini nampak pada kegemarannya dengan olah raga, misalnya bela diri, berenang, bulutangkis atau sepak bola. Permainan-permainan di taman kanak-kanak banyak diciptakan untuk membuat badan terlatih dengan gerakan-gerakan yang sulit.

Untuk mengembangkan potensi kecerdasan mengatur tubuh hendaknya anak kita cukup diberi kesempatan berada di ruang luas dan diberi berbagai alat olah raga yang mendukung. Kemampuan drama juga membutuhkan kecerdasan kelenturan tubuh, sebab gerakan, ucapan dan emosi jiwa mesti diatur secara harmonis.

vi. Cerdas Berinteraksi Sosial (Interpersonal),

Kecerdasan ini nampak pada anak pada saat berinteraksi dengan kawan-kawannya. Bagi orang beriman, kemampuan bersosial sangat erat dengan kecerdasan relijius, sebab agama mengajarkan untuk berbuat baik dan saling menolong dengan sesama manusia. Sifat mudah diterima dan bahkan disenangi teman-teman menjadi salah satu parameter awal untuk mengukur kecerdasan ini.

Sesungguhnya anak akan melihat bagaimana orang tua mereka bersikap terhadap masyarakatnya. Anak yang penyantun dan dermawan akan sangat mungkin muncul dari keluarga yang penyantun dan dermawan. Anak yang ramah dan mudah bergaul akan sangat mungkin lahir di keluarga yang juga ramah dan mudah bergaul di masyarakatnya.

Untuk membangun kecerdasan sosial anak sudah dibiasakan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial sejak kecil. Mereka juga mesti sering diajak berdiskusi dalam memecahkan permasalahan yang dihadapinya.

vii. Cerdas Berkontemplasi dan Membaca Diri (Intrapersonal),

Adalah kecerdasan seorang anak dalam memahami kondisi jiwanya. Kecerdasan jenis ini mungkin termasuk yang sulit diukur pada anak. Akan tetapi kecerdasan membaca diri membuat seorang anak lebih tenang dalam menghadapi masalah. Rasa self confidence-nya terbangun dengan baik.

Perhatikanlah ketika anak kita sedang menghadapi masalah. Seorang anak umumnya akan meledak emosinya. Apakah dengan menangis atau dengan marah-marah. Kondisi seperti sebetulnya kondisi di mana anak confuse dengan gejolak emosinya. Sebagai orang tua kita harus membimbing anak pada saat-saat seperti itu. Caranya dengan menenangkan gejolak emosinya, memintanya mengutarakan permasalahan yang tengah dihadapi dan kemudian membantunya memecahkan masalah itu lewat dialog.

Selesai. Wal hamdu liLlaahi.
Hasil Copas
· · Bagikan




    • Salwa Fattah Untuk kecerdasan bernada dan bermusik dengan memberikan alternatif yang dibolehkan dalam agama.
      13 Juni jam 8:50 ·


    • Ardi Astuti
      ya benar. anak adalah amanah yg sangat berat. apa yang menjadi kebiasaan kita, sebagian besar adalah warisan dari pola didik orang tua. maka itu perlu sekali dibangun kebiasaan2 baik pada anak yang tentunya harus dimulai dulu dari orang tua...nya. setelah itu mudah2an dengan idzin Allaah kita telah mewariskan sesuatu yg baik yang mudah2an juga terbawa hingga ke beberapa generasi.

      uwah.. jadi orang tua oh jadi orang tua :D

      jazakillaahu khayr tag-nya ya umma ahmad :)
      Lihat Selengkapnya
      13 Juni jam 18:15 ·


    • Nani Karmini jazakillaah khoir atas kirimanilmu nya...
      16 Juni jam 0:41 ·

HATI ANAK DAPAT DIUKIR DENGAN SEGALA JENIS UKIRAN

oleh Salwa Fattah pada 24 Februari 2010 jam 17:36
Imam ghazali berkata dalam kitab ihya ulumuddin: ketahuilah bahwasanya mendidik anak merupakan perkara yg penting dan fundamental. Anak adalah amanah bg kedua org tuanya. Hatinya merupakan mutiara yang suci, berharga dan masih kosong dari segala ukiran dan gambar (pengaruh luar). Hati seorang anak siap menerima segala bentuk ukiran yg diukirkan padanya. Jika hatinya dipalingkan pada sesuatu, niscaya dia akan berpaling (condong) padanya. Jika dia dibiasakan melakukan kebaikan dan diajarkan melakukan kebaikan, maka dia akan tumbuh diatas pondasi kebaikan. Kedua orangtuanya pun akan ikut merasakan ganjaran pahala yg diterima olehnya kelak.
Setiap orang adalah guru dan pendidik bagi anak. Jika anak dibiasakan melakukan keburukan dan prilakunya diacuhkan begitu saja maka dia akan hidup sengsara dan binasa, sedang beban dosanya akan dilimpahkan kpd orang yg memberinya warna. Menjaganya adalah dengan cara mendidik, memberikan pelajaran, mengajarkan kepadanya akhlaq-akhlaq yg baik, menjaganya dari teman yg berperangai buruk, tidak membiasakanya hidup mewah, dan tidak membuatnya cinta terhadap perhiasan dan kemewahan duniawi. Karena jika sang anak mencintai dunia, maka usianya akan disia-siakan untuk mencari kebahagiaan dunia saat dia dewasa nanti.
Seorang anak harus selalu diawasi sejak dini, sejak akal pikirannya mulai tumbuh berkembang dan rasa malu pada dirinya mulai muncul. Jika anak mulai malu dan meninggalkan suatu perbuatan tertentu, maka hal itu tidak lain pertanda cahaya akal sudah mulai terbit menyinari dirinya.
· · Bagikan

Cerita dari Sekolah Penghafal Qur'an Balita

 

 

oleh Salwa Fattah pada 16 September 2010 jam 12:11
Saya tinggal di Iran dan punya usia anak empat tahun. Sejak tiga bulan lalu,
saya masukkan dia ke sekolah hafiz Quran untuk anak2. Setelah masuk.,
wah ternyata unik banget metodenya. (Siapa tau bisa dijadikan masukan buat
akhwat2 yg berkecimpung di bidang ini.) Anak-anak balita yang masuk ke
sekolah ini (namanya Jamiatul Quran), tidak disuruh langsung ngapalin
juz'amma, melainkan setiap kali datang, diperlihatkan gambar misalnya,
gambar anak lagi cium tangan ibunya, (di rumah, anak disuruh mewarnai
gambar itu), lalu guru cerita ttg gambar itu (jadi anak harus baik.dll).

Kemudian, si guru ngajarin ayat "wabil waalidaini ihsaana/Al Isra:23"
dengan menggunakan isyarat (kayak isyarat tuna rungu), misalnya,
"walidaini",
isyaratnya bikin kumis dan bikin kerudung di wajah (menggambarkan ibu dan
ayah). Jadi, anak2 mengucapkan ayat itu sambil memperagakan makna ayat
tersebut. Begitu seterusnya (satu pertemuan hanya satu atau dua ayat yg
diajarkan). Hal ini dilakukan selama 4 sampai 5 bulan. Setelah itu, mereka
belajar membaca, dan baru kemudian mulai menghapal juz 'amma.

Suasana kelas juga semarak banget. Sejak anak masuk ke ruang kelas, sampai
pulang, para guru mengobral pujian-pujian (sayang, cantik, manis,
pintar.dll) dan pelukan atau ciuman. Tiap hari (sekolah ini hanya 3 kali
seminggu) selalu ada saja hadiah yang dibagikan untuk anak-anak, mulai
dari gambar tempel, pensil warna, mobil2an, dll.

Habis baca doa, anak-anak diajak senam, baru mulai menghapal ayat. Itupun,
sebelumnya guru mengajak ngobrol dan anak2 saling berebut memberikan
pendapatnya. (Sayang anak saya krn
masalah bahasa, cenderung diam, tapi dia menikmati kelasnya).

Setelah berhasil menghapal satu ayat, anak-anak diajak melakukan berbagai
permainan. Oya, para ibu juga duduk di kelas, bareng2 anak2nya. Kelas itu
durasinya 90 menit .

Hasilnya? Wah, bagus banget! Ketika melihat saya membuka keran air akan
terlalu besar, anak saya akan nyeletuk, "Mama, itu israf (mubazir)!"
(Soalnya, gurunya menerangkan makna surat Al A'raf :31 "kuluu washrabuu
walaatushrifuu/makanlah dan minumlah, dan jangan israf/berlebih2an).

Waktu dia lihat TV ada polisi ngejar2 penjahat, dia nyeletuk "Innal hasanaat
tushrifna sayyiaat/ Sesungguhnya kebaikan akan mengalahkan kejahatan"
(Hud:114). Teman saya mengeluh (dengan nada bangga) bahwa tiap kali dia
ngobrol dgn temannya ttg orang lain, anaknya akan nyeletuk "Mama, ghibah
ya?" (soalnya, dia sudah belajar ayat "laa yaghtab ba'dhukum
ba'dhaa"/Mujadalah:12).

Anak saya (dan anak2 lain, sesuai penuturan
ibu2 mereka), ketika sendirian, suka sekali mengulang2 ayat2 itu tanpa
perlu disuruh. Ayat2 itu seolah-olah menjadi bagian dari diri mereka.
Mereka sama sekali tidak disuruh pakai kerudung. Tapi, setelah diajarkan
ayat ttg
jilbab (An-Nur:31)! , mereka langsung minta sama ibunya untuk dipakaikan
jilbab.

Anak saya, ketika ingkar janji (misalnya, janji nggak main lama2, trus
ternyata mainnya lama), saya ingatkan ayat "limaa taquuluu maa laa
taf'alun" (As-Shaf:2).dia langsung bilang "Nanti nggak gitu lagi Ma.!"
Akibatnya, jika saya mengatakan sesuatu dan tidak saya tepati, ayat itu
pula yang keluar dari mulutnya!

Setelah tanya2 ke pihak sekolah, baru saya tahu bahwa metode seperti ini,
tujuannya adalah untuk menimbulkan kecintaan anak2 kepada Al Quran.
Anak2balita itu di masa depan akan mmpunyai kenangan indah ttg Al Quran.
Saya pikir2 benar juga. Saya ingat, dulu waktu kecil pergi ke TPA
(Taman Pendidkan Al Quran) di Indonesia, rasanya maless..banget (Kalo nggak
dipaksa ortu, nggak jalan deh). Bagi saya, TPA identik dengan beban berat,
PR yaang banyak, hapalan bejibun, guru galak, dsb. Pernah saya dengar, di
sekolah Kristen anak2 diberi hadiah dan dikatakan kepada mereka bahwa itu
dari Yesus. Nah, kenapa kita kaum muslim yang meyakini bahwa agama kitalah
yang paling benar, tidak meniru cara ini agar anak2 merasa cinta kepada
Allah dan Quran? Bagaimanapun, dunia anak2 adalah dunia materi. Mereka baru
bisa mencerap hal2 yang nyata, seperti hadiah (dan belum paham, pahala itu
apa). Para orangtua teman sekelas anak saya juga pada cerita bahwa anak2nya
malah nangis kalau nggak diajak ke ! sekolah. Malah, buat anak saya,
ancaman tidak diantar ke sekolah adalah ancaman paling ampuh, kalau dia
nakal (dia akan langsung nangis, hehehe...mamanya nakal ya?).

Metode pengajaran ayat Quran dengan menggunakan isyarat ini diciptakan oleh
seorang ulama bernama Sayyid Thabathabai. Anak beliau yang pertama pada
usia 5 tahun di bawah bimbingan beliau sendiri, sudah hapal seluruh juz Al
Quran, berikut maknanya, hapal topik2nya (misalnya, ditanyakan, coba
sebutkan ayat2 mana saja yg berbicara ttg akhlak kepada orangtua, dia akan
menyebut, ayat ini..ini..ini..), dan mampu bercakap-cakap dengan bahasa Al
Quran
(misalnya ditanya; makanan favoritmu apa, dia akan menjawab "Kuluu mimma
fil ardhi halaalan thayyibaa" (Al Baqarah:168). Anak kedua juga memiliki
kemampuan sama, tapi sedikit lebih lambat, mungkin usia 6 atau 7 tahun.

Keberhasilan anak2 Sayyid Thabathabi itu benar-benar fenomental ( bahkan
anak pertamanya diberi gelar Doktor Honoris Causa di bidang Ulumul Quran
oleh sebuah universitas di Inggris ), sehingga sejak itu, gerakan menghapal
Quran untuk anak-anak kecil benar2 digalakkan di Iran. Setiap anak
penghapal Quran dihadiah! i pergi haji bersama orang-tuanya oleh negara dan
setiap tahunnya ratusan anak kecil di bawah usia 10 tahun berhasil
menghapal Al Quran ( jumlah ini lebih banyak kalau dihitung juga dengan
anak lulusan dari sekolah2 lain ).

Saya pernah diskusi dgn teman saya dosen ITB, dia mengatakan bahwa metode
seperti itu merangsang kecerdasan anak karena secara bersamaan anak akan
melihat gambar, mendengar suara, melakukan gerakan-gerakan yang selaras
dengan ucapan verbal, dll. Sebaliknya, menghapal secara membabi-buta, malah
akan membuntukan otak anak.

Selain itu, menurut guru di Jamiatul Quran
ini, pengalaman menunjukkan bahwa anak-anak yang menghapal Quran dengan
melalui proses isyarat ini (jadi mulai sejak balita sudah masuk ke sekolah
itu) lebih berhasil dibandingkan anak-anak yang masuk ke sana ketika usia
SD.

Selain itu, menghapal Al Quran lengkap dengan pemahaman atas artinya jauh
lebih bagus dan awet (nggak cepat lupa) bila dibandingkan dengan hapal
cangkem (mulut).


Wassalam

Semoga Bermanfa'at.

ngutip dari milis suami:)
· · Bagikan

    • Ardi Astuti
      saya pernah baca note serupa beberapa tahun yg lalu, tapi lupa dimana. Alhamdulillaah ada juga video anaknya Sayyid Thabathabai ini ya mu? Kalo gak salah namanya Husein gitu?
      Tapi katanya sih Syi'ah.. Allaahu a3lam..

      Di note ini selain pemapa...ran metode hafalan Qur'an yg menarik, juga ditutup dengan gambar yg menarik.. Umaarrr..!!! kau kah itu sayang? Lucu sekali :* Lihat Selengkapnya
      12 Juni jam 12:00 ·
    • Ersina Rakhma Santosa subhanallah.... kalah saya ama anak2 itu, jadi malu :(
      12 Juni jam 12:00 ·
    • Aulia Bint Nurul Subhanallah sangad brmanfa'at Ka..
      Bleh minta di tag Ka...
      Jazakillahu khayran
      12 Juni jam 12:22 melalui Facebook Seluler ·
    • Salwa Fattah ‎@kholah diaz, ana juga denger seperti kholah, semoga kita bisa mengambil sisi positifnya saja.Oia kholah ini umar,lagi hapalin alfatihah:)
      @ayo mba ina semoga jadi inspirasi untuk keturunannya kelak.
      @kholah uli, udah umi tag u kholah
      12 Juni jam 12:43 ·
    • Ardi Astuti apa anak2 sudah ada jadwal menghafal kak? klo boleh tau kapan aja? syukran
      12 Juni jam 12:46 ·
    • Salwa Fattah ‎@kholah diaz, maksudnya aa dan umar ya, alhamdulillah klo aa setiap hari menghapal ama abinya minimal sekali ba'da sholat di masjid, klo umar alhamdulillah sambil main, dan sepertinya sudah menjadi lantunan buat dia, tanpa disuruh pun alhamdulillah, apalagi klo pegang mushaf ia langsung ngaji, hehe
      12 Juni jam 13:15 ·
    • Risna Rina k salwa apa kbrnya di jepang? dah ada binaannya k???
      12 Juni jam 17:47 ·
    • Salwa Fattah ‎@Risna, bikhair alhamdulillah, alhamdulillah dah ada nih, jagoan ana 2 orang:) sementara sih belum de, masih adaptasi nih, masih belajar bahasa jepang hehe,klo ngajar anak 2 ngaji di masijd alhamdulillah.
      13 Juni jam 13:00 ·
    • Asrina Astagani
      subhanallah.. patut utk dicontoh metodenya..
      kalo metode mberi hadiah uda prnah sy coba dl kak d smd, alhamdulillah emg cukup efektif.. mbuat mengaji jd lbh menyenangkan.. bkn hal yg menakutkn & mberatkan lg bg anak.. jd ortu mrk ga susah lg... nyuruh2 prgi ngaji.. tp anak uda rajin dg sendirinya.. semangatnya jd spt kalo mrk prgi maen.. smangt skali..

      kalo metode cara menghafalnya.. sptnya sgt menarik utk dicoba.. bkn hy pd anak2 sj tp pd diri sendiri.. menghafal smbil faham artinya.. jd bs lngsung mengaplikasikan Al qur'an dlm kehidupan sehari2.. menarik skali..

      wah.. jd kangen sm anak2ku d smd.. hiks
      jd srasa pengen punya anak nih.. he2 *o*

      @ahmad & umar : teruzz semangat ya.. menghafalnya.. kholah doakan smg bs jd penghafal qur'an ya.. aamin..
      *doakan kholah jg ya.. ;)
      Lihat Selengkapnya
      21 Juni jam 8:00 ·
    • Asrina Astagani utk pic di notenya.. duuhhh sholehnya anak ini.. anak sapa sih ini??? gemesssss.. he2 ^^
      21 Juni jam 8:03 ·
    • Asrina Astagani afwan kak, izin copas jg buat masukin k blog ya..
      21 Juni jam 8:10 ·
    • Salwa Fattah ‎@kholah rina, jazaakillah khair sharingnya ya.aamin semoga mjd anak sholeh.tafadholii.
      21 Juni jam 11:16 ·
    • D-vee Humairoh San de', tlg ana di-tagx ya.. jzkllh khair seblmx. doax jg bs m'bimbing anak2 jd hafidz(ah)...
      16 September jam 10:13 melalui Facebook Seluler ·
    • Salwa Fattah ‎@ka Humairoh, sdh ka'.
      @Kholah Rina, metode memberi hadiah coba saya lakukan untuk aaAhmad dan Umar, setiap kali dah bisa hapal satu surah dijanjiin hadiah. Ya semoga menjadi kebaikan supaya anak2 senang menghapal al-Quran.
      16 September jam 12:16 ·